Nop 04 2011
Aku titip cemasku pada bintang
.
Hampir lewat tengah malam. Tubuh rebah di kasur menatap langit-langit kamar. Hasil pemeriksaan uji darah di PMI membuat saya sulit tidur.
Kadang memang benar kata orang, akan lebih baik kita tidak perlu tahu kenyataan yang seharusnya terang benderang. Apabila kenyataan itu tidak sesuai seperti apa yang diharapkan. Semisal yang pernah saya ucapkan pada Bathara Satria, laki-laki yang sudah membagi segalanya selama dua tahun bersama saya. Membagi apa saja dari yang dia miliki. Membagi senyumnya saat saya sedang gundah. Membagi cerita seputar aktifitas seharian yang sudah di lewatinya, entah itu cerita bahagia atau keluh kesahnya. Membagi sebagian waktunya untuk sekedar memikirkan bagaimana keadaan saya, sedang apa, lagi dimana. Juga menyisihkan sedikit fokusnya pada pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk di kantor untuk sekedar memberi pertanyaan berulang yang sama setiap hari lewat telefon atau sms kamu sudah makan belum?sebagai bentuk perhatian kecil darinya. Segalanya yang tentu saja itu bermakna cinta.
Bagi perempuan semuanya itu terasa indah. Namun akan bisa jadi berbeda bila kenyataan terang benderang sudah tersaji di depan mata. Maka, saya hanya meminta satu hal saja kepada Satria.
Berusahalah untuk menjaga perasaanku, Satria. Atau bila terlanjur kamu menorehkan luka, jangan sampai luka itu terlihat nyata didepanku. Terserah bagaimana caramu
Karena mengetahui kenyataan tidak selamanya menyenangkan. Cinta seseorang yang juga kamu cintai nyatanya bisa saja terbagi dengan hati yang lain. Perhatiannya pecah tertuju pada sosok yang lain. Bukan hanya untukmu saja. Dan itu ancaman insomnia yang menakutkan bagi kebanyakan perempuan. Hal itu pernah di alami sahabatku, Andara yang berubah menjadi setengah zombi, setengah manusia. Matanya terjaga selama entah berapa hari berturut-turut. Lalu, datang ke kantor dengan mata sembab membengkak. Lingkaran hitam serupa boneka panda tidak bisa ditutupi sempurna dengan riasan wajah dan bedak tebal. Air matanya terlihat tertahan bekas semalam, malam kemarin atau malam-malam sebelumnya. Masih tertahan, mungkin karena belum semuanya tumpah keluar.
Aku lebih memilih untuk di bohongi kenyataan! Aku teringat ucapan Andara tiga minggu lalu. Dia yang melampiaskan kecewanya dengan tangis bukan sekedar isakan. Di kantin kantor saat jam makan siang. Menarik perhatian semua pasang mata untuk tertuju kepadaku dan juga Andara. Saat itu, aku merasa ayam yang sudah dibakar, ditaburi rempah bumbu yang memanjakan lidah serta di olesi madu hidup kembali dalam mulutku. Buru-buru aku mengunyahnya cepat lalu kutelan. Dorongan air putih beberapa tegukan membuatnya lebih cepat masuk ke tenggorokan.
Duh, nangisnya jangan kenceng-kenceng dong, Dara. Kita diliatin banyak orang nih! Bujukku sambil menyodorkan tisue kearahnya. Tapi, setelah menangis aku melihat jelaga diwajahnya lega. Menakjubkan sekali fungsi air mata itu.
Kemudian aku berfikir, cara paling baik untuk mengurangi kesedihan malam ini adalah berbagi dengan orang lain. Seperti yang dilakukan Andara.
Pukul dua dini hari.
Aku belum bisa tidur. bunyi pesan singkat yang aku kirimkan ke handphone Satria. Tidak sampai hitungan menit. Handphoneku berbunyi. Bahkan sampai waktu tidurnya pun, Satria bersedia membaginya untukku.
Soal hasil pemeriksaan uji darah di PMI yang menyatakan aku terkena penyakit hepatiti B memang aku belum menceritakannya pada Satria. Mungkin, aku memang tidak berniat membagi berita kesedihan itu padanya. Kalau dia selama ini bisa menjaga perasaanku, mengapa aku tidak bisa menjaga perasaannya. Aku hanya tidak ingin membuatnya cemas dan khawatir. Itu saja.
Lalu, Seperti biasa Satria bercerita tentang banyak hal. tentang hubungan kita dan rencana kedepannya, tentang klien barunya yang menggugat saudaranya sendiri kejalur hukum secara perdata karena pembagian harta waris yang dianggapnya kurang adil. Aku juga bercerita tentang rencana keberangkatanku untuk mengurus proyek di Sumatra selama 3hari yang kemungkinan akan di acc besok oleh atasanku. Lalu dia juga bercerita tentang team M.U kegemarannya. Aku juga bercerita ingin beli baju bola yang belakangnya tertulis nama Lionel Messi.
Mendengar dia bercerita, aku seperti seorang anak kecil yang selalu antusias saat di dongengkan oleh ibunya. Tanpa terasa, sudah satu jam kita bercerita hingga aku terlelap dengan handphone yang masih menyala.
Sayup-sayup aku mendengar suaramu yang memanggilku Ras,Saras sayang, kamu ketiduran ya? disambung dengan tertawamu yang renyah ketika hanya terdengar bunyi ngorokku pertanda lelah. Kamu mengucapkan selamat tidur sebelum mematikan sambungan HPnya.
Aku titip cemasku pada bintang yang menerangi gelap langit hitam dan juga pada bulan yang bentuknya tinggal separuh lingkaran, tempat aku berfikir untuk mencoba berdamai dengan kenyataan.
Selamat terlelap. Aku baru tertidur di seperempat malam.


