Apr 25 2012

Senioritas “berlakunya pasal 1 & 2″ terakhir.

Masa kuliah itu adalah masa yang mahal bagi saya. Lebih mahal dari masa SMA, yang mahal maksud saya adalah biayanya. Apalagi kampus saya juga termasuk kampus termasyur di Jakarta. *sombong :D * Termasyur karena mayoritas etnisnya. Yah, biarpun kampus saya di isi oleh kawan-kawan dari keturunan ThiongHoa tapi, saya yang hitam manis tulen asli pribumi ini tetap merasa nyaman kok selama kuliah disini. Because i think, semakin banyak perbedaan. Makin besar pula (harusnya) nilai toleransi yang tumbuh di jiwa kita.

Oke, sebelumnya akan saya perlihatkan kampus saya dari sebuah foto hasil jepretan saya sendiri :D . Satu hal yang pasti menghuni hati para mahasiswa yaitu ketika dia masih berkuliah rutin setiap hari (Senin- Jum’at) adalah muak pada kampus. Birokrasinya ribetlah, Politik kampusnya bejat, Cara ngajar dosennya bikin ngantuk, Tugasnya bertumpuk, fasilitas kampusnya kurang oke karena di anggap tidak sesuai harga yang dibayarkan. Proses KRS onlinenya sering bikin darah tinggi. Jadi bawaannya pingin protes muluuu…! Apa sependapat dengan saya? Tapi, coba deh nanti rasakan bila kita sudah tidak lagi kuliah disana. Diam-diam dalam lubuk hati kita terdalam menyimpan rasa kangen dengan segala hal yang berbau kampus. Dan mengenai kebobrokan di kampus? itu tidak akan pernah lagi terpikirkan. Yang ada malahan, saya ingin bilang kalau saya bangga pernah kuliah disana *jadi sedih beneran :( *

4bf33ce43d72410eeb3542d007de5b23_24120_1201151163788_1678830875_391875_2466239_n

Sejenak, saya ingin membawa diri ini kembali pada saat saya menginjakan kaki pertamakali di kampus. Saat itu jam ditangan sudah menunjuk 5 pagi lewat 05 menit. Langit masih gelap ketika saya menyadari harus tetap lari bergegas saat baru saja turun dari bus 104 jurusan Tangerang - Grogol. Bahkan saat itu saya tidak peduli bila saya terjatuh karena yang ada di pikiran saya hanyalah : ini hari pertama dimulainya OSPEK. Dimana setiap kesalahan ada hukuman dari Don dan Madam (panggilan kesepakatan untuk para senior).

“Mampus telat gue!” batin saya.

Di hari sebelumnya telah disepakati. Kalau selama OSPEK. Jam 5 ontime mahasiswa baru harus sudah baris rapi di depan aula kampus. Berangkat ke kampus tidak boleh manja di antar pakai kendaraan pribadi apalagi ditungguin sama mama-papa. Dandanan seragam dan barang bawaan selama OSPEK adalah pesanan senior yang tidak dapat di bantah. Karena selama 5 hari masa OSPEK di kampus berlaku pasal 1 dan pasal 2, dimana pasal itu berisi :

(pasal 1) : Apapun yang dikatakan, di perintahkan, dan di amanatkan. Senior selalu benar.

(pasal 2) : Dan apabila sewaktu-waktu senior salah, lalai atau lupa. maka, pasal 1 akan berlaku.

Jadi, ketika saat itu saya menyadari telat lima menit. Saya tidak henti berlari mengejar waktu bersama kawan-kawan mahasiswa senasib yang lain. “Untung ngak sendirian” ucap saya lebih bersyukur. Tapi, ucapan syukur itu seketika menguap bersama udara pagi yang masih dingin. Ketika dari jarak 2 meter mata saya fokus tertuju pada 4 orang yang sedang berdiri. Mereka menggunakan almamater warna merah dengan mata yang menatap ke arah kami sambil geleng-geleng kepala.

64ec3becb9da1a18d210ed32aab9cd86_img00197-20100410-0948

Ini bukan jembatan di Citraland sih tapi kira2 mirip kaya ginilah.

Dibawah jembatan dekat Citraland kami diperintahkan berbaris rapi. Lalu salah satu kakak senior cowok memberi aba-aba kepada kami agar jalan jongkok untuk menyebrangi jembatan tersebut. Jembatan yang menghubungkan kampus 1 (di samping kampus Trisakti) dan kampus II (di samping Citraland). Jadi, bisa dibayangkan penderitaan awal OSPEK saya saat itu? Tapi, saya masih berucap syukur karena saya melakukan itu bersama, kira-kira dengan 30an kawan lain yang senasib sepenanggungan :D

OSPEK jaman saya masih keras? Iya! karena saat itu, saya mahasiswa angkata tahun 2006. Tahun terakhir sebelum pemerintah membuat pelarangan keras akan penyelenggaraan OSPEK di setiap kampus manapun di Indonesia. Jadi, apa saya menganggap ini apes? Oh, tidak! Justru saya malah senang karena masih bisa ngerasaain bagaimana “rasa OSPEK” sesungguhnya. Tidak seperti mahasiswa baru jaman kekinian (setelah saya). Dimana, mereka hanya melewati OSPEK yang biasa-biasa saja. Karena kebanyakan OSPEK sekarang hanya dipegang oleh para dosen dan diisi “kuliah panjang” tentang pengenalan kampus saja. Situasinya tidak jauh dari perkuliahan biasa. Selingannya paling hanya diisi dengan game-games saja. Membosankan…

“Woi cepet! sudah telat, jalan masih santai kaya orang mau belanja di Citraland” teriak senior perempuan. Namanya Ketty.

Salah seorang teman saya ada yang menimpali “Capek, Madam! Sabar dong, abis disuruh nyebrangin jembatan sambil jalan jongkok nih,” katanya enteng.

“Aduh, nekat!”

“Wah cari mati itu orang!”

Kata teman-teman yang lain setengah berbisik. Suara-suara itu masih sampai ke telinga saya. Wajah kakak senior itu jadi berubah makin garang. “Oh, mana sini yang bilang capek?” ucapnya. “Oke, kalau kamu capek silahkan istirahat duduk-duduk dulu 10 menit” kalimatnya sengaja menggantung…”Tapi, habis itu silahkan push up 50 kali” perintahnya dengan wajah puas.

“Ada lagi yang masih capek?” tawar kakak senior yang lain pada kami. Otomatis tidak ada yang berani menjawab lagi. Semua diam seribu bahasa. Termasuk juga saya.

Baris-berbaris di aula itu digunakan oleh para senior untuk membagi kami para mahasiswa baru kedalam sebuah kelompok, dimana masing-masing kelompok berisi 9 orang. Dari sanalah saya bisa mengenal nama dan bisa ngobrol saling bertanya “asal daerah dari mana?”. Karena kebanyakan teman-teman di kampus saya memang orang perantauan dari luar pulau jawa.

Roundown acara seharian itu, dari jam 5 pagi - jam 5 sore sepenuhnya milik para senior. Kami junior di suruh ini harus nurut…di suruh itu wajib nurut…Tapi, yang perlu di garis bawahi adalah biasanya sekejam-kejamnya OSPEK di kampus. Tidak mungkin sampai sekejam IPDN/STPDN yang tega menghajar juniornya kaya menghajar maling yang ketangkep di pasar. Biar dibilang kejam tapi, over all tidak ada titah atau perlakukan senior selama OSPEK berlangsung yang sampai membahayakan keselamatan jiwa kami.

And see me now! Look at my dress code. Selama OSPEK berlangsung. Junior diharuskan memakai atasan kemeja putih dan rok putih kalau cowok memakai celana panjang putih. Pergelangan lengan diikat oleh pita warna masing-masing kelompok. Pita saya berwarna biru. Rambut saya juga di kuncir kuda dengan pita warna senada (banyaknya kunciran di rambut ditentukan berdasarkan jumlah hari) karena ini hari pertama. Jadi, saya hanya di kuncir satu . Punggung saya menggamblok tas dari karung goni yang sudah di modifikasi sekreatif mungkin karena bagi junior yang bentuk tasnya standar akan mendapat hukuman senior. Waktu itu, tas aya di jahitkan oleh ibu. Di leher telah tergantung sebuah papan name tag segede alaihim gambreng sebagai tanda pengenal diri; berisi nama, cita-cita, hobi, motivasi hidup, asal SMA, dan panggilan kesayangan senior untuk kita. Pada bagian kaki, tidak ada yang mencolok aneh. Saya memakai sepatu warna (harus) hitam dengan kaos kaki panjang ala pemain bola yang sebelah kiri warna merah dan sebelah kanan warna biru. Khusus untuk seragam, di hari pertama ini kakak senior memberika stample di kemeja dan rok putih kami. Dengan perjanjian, kalau selama 5 hari masa OSPEK baju yang kami pakai tidak boleh ganti & stemple dibacu tidak boleh hilang. Hingga OSPEK dinyatakan selesai.

Mengenai dress code yang saya pakai selama OSPEK. Rasanya tidak terlalu membuat diri saya terlihat seperti orang gila! Yang bikin gila itu justru bawaan bekal nasi dan lauk pauk untuk makan siang kami selama OSPEK berlangsung. Asli! yang ini beneran ngerepotin. Coba bayangkan, saya bubar dari kampus jam 5 sore. Terkadang malah ngaret 1 jam. Waktu dari kampus pulang kerumah 2 jam. Sampai di rumah sudah malam dengan kondisi badan remuk redam. Nah, malam-malam gini mana ada tukang sayur yang dagang? sedangkan perintah lauk-pauk aneh-aneh?! Intinya memang tetap mengandung menu 4 sehat, 5 sempurna. Tapi, kalau disuruh bawa jengkol saus baberque atau pindang ikan keju. dan tempe orek bola salju. Lumayan yaa…ngerepotin juga kalau setiap hari menunya gonta-ganti dan aneh-aneh semua. Belum lagi tambahan suruh bawa cemilan berupa coklat, biskuit, roti dengan marek yang harus kita modifikasi sendiri lagi. Alhasil untuk mempersiapkan segalanya sampai benar-benar ngak ada yang terlewatkan. Finishnya sampai tengah malam. Dan keesokan harinya. Entah bagaimana caranya jam 5 pagi “teng” harus sudah sampai di kampus lagi. Kalau telat? harus jalan jongkok lagi nyebrangin jembatan dari kampus 1 ke kampus II. *kejang-kejang* :’(

Hari-hari berikutnya, hari kedua, ketiga, keempat sampai dengan hari terakhir masa OSPEK sebenarnya hanya di isi dengan suara bentak-bentakan arogansi senior ala Hitller, perintah dari mereka yang terbilang abnormal. Dari disuruh gambar jempol tangan (yang menurut senior ngak mirip kena hukuman), sampai suruh bikin surat cinta dan surat benci untuk senior. Dan biasanya ada saja penampakan senior favorit yang bisa mengobati lelah kita setelah seharian “disiksa” selama masa OSPEK itu selesai. Dulu senior favorit saya namanya Wendi dan sudah pasti ganteng dan paling banyak senyum. Apalagi kalau lagi senyumnya ke saya. (akan terlihat makin ganteng) :D

Dalam masa-masa OSPEK semua rasa tentu saja bercampur aduk jadi satu. Ada kalanya prilaku senior benar-benar bikin jengkel. Bahkan saya sempat marah frontal sendirian dan mendapat hukuman khusus di ruang eksekusi. Waktu itu saya hanya disuruh nyemirin sepatu Kak Nicko, senior yang menurut saya gayanya paling otoriter. Tapi, itu mungkin maksudnya ingin menguji daya mental saya seberapa besar.

Selain kejengkelan, tentu juga ada sedih dan haru. Terutama ketika acara renungan diri dan motivasi, saya rasa saat itu tidak ada mahasiswa baru yang tidak menangis. Dan pada saat moment itulah senior bebas memfota-foto kita dalam keadaan terjeleknya wajah pada saat menangis.

Makna OSPEK itu sendiri sebenarnaya baik jika di pandang dari segi positif. Karena dalam OSPEK saya di ajarkan kedisplinan, saya dituntut untuk kerja keras agar bisa memenuhi apa yang sudah menjadi target dan kesepakatan (biarpun itu) dari para senior, saya belajar tentang solidaritas kepada sesama teman, belajar membuang jauh-jauh sifat egois dan keras kepala, belajar untuk bisa menerima pendapat orang lain sesuai dengan jargon senior “yang satu bicara, yang lain mendengarkan”, Selain itu OSPEK juga menuntut agar saya bisa belajar untuk menyesuaikan diri/ adaptasi. Sekeras apapun lingkungan yang saat ini sedang saya jalani. Belajar untuk sabar dan tidak cepat terpancing emosi, dengan kata lain kita di tuntut belajar untuk lebih bisa berfikir secara dewasa.

Dan sampai pada hari terakhir OSPEK. Akhirnya kita para mahasiswa baru tahu, kalau sikap menyebalkan dari para senior, sikap sok galaknya ala Hitler dari mereka dan sikap tegas yang ditunjukan selama 5 hari itu hanyalah bentuk lain agar kami. Para adik-adik juniornya bisa belajar akan banyak hal. Bisa menyerap makna dalam sesungguhnya dari diadakannya OSPEK dikampus. OSPEK bukanlah kekerasan tapi, ada pembelajaran berharga jika setiap kepala mau berfikir positif. Baik dari seniornya dan juga juniornya.

OSPEK di kampus saya seberapapun “keras”nya yang pernah saya alami tapi, hal itu tetap menjadi bagian kenangan yang sulit di lupakan. Karena banyak kesan yang telah tertinggal di dalamnya. Senioritas atas berlakunya pasal 1 & pasal 2 telah berakhir dengan teriakan lantang bersama-sama “Hidup Mahasiswa!” dan “Viva La Recht!”

________________________________________________________________________

d2f7d34c8323f59dcc43dd37e9100198_gartikel ini di ikut sertakan dalam lomba blog #sukasuka di genksukasuka yang di sponsori oleh bunda desi, kakjuli dan teh ani berta,



Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Tumblr
  • TwitThis
  • YahooMyWeb
  • MySpace
  • Yahoo! Buzz




11 Responses to “Senioritas “berlakunya pasal 1 & 2″ terakhir.”

  1. wah..ospek-nya memang seru dan gila..sadis :)

  2.   Bayuon 30 Apr 2012 at 12:32 PM

    Ospek emang pengalaman yg tak terlupakan, cerita yg menarik mbak seru…
    Viva La Recht!…

  3.   Marina Rizkion 30 Apr 2012 at 4:04 PM

    keren looh kak ceritanya!! aku jadi punya gambaran ntar kuliah aku bakal gimana. pokoknya, ospek emang bener-bener mantep!! bener siih ada sisi baiknya juga buruknya dari ospek ini. cuman aku berharap 2 tahun lagi aku nggak ngerasain ospek yang mengerikan deh !! -______-

    ohya, makasih kaka udah berkunjung ke blog aku.
    salam kenal juga yaa kak .. :D

  4.   NERDinaon 30 Apr 2012 at 4:52 PM

    OSPEk,, hahaha pengalaman yang sama :D

  5.   jay boanaon 30 Apr 2012 at 11:07 PM

    pengalaman ini sih udah di rasakan saat SMK dulu jadi gak kaget lagi saat nanti saya masuk kuliah, hehe tapi gak tau juga mau ikutn apa gak soalnya sambil kerja , makasih yh udah mau berbagi ceritanya.

    btw mba tinggal di tangerang juga yah? dimana?

  6.   'Neon 04 Mei 2012 at 3:50 PM

    sukses ya untuk kontesnya :-)

  7.   annyon 05 Mei 2012 at 10:36 PM

    Dengan Opspek pun ada hal menarik dan menyenangkannya ya, sisi fun dari opspek memang ada walau belum jelas apa tujuannya hehehe
    Moga menang ya lombanya, ceritanya menarik :)

  8.   jay boanaon 08 Mei 2012 at 10:10 AM

    selamat anda beruntung menjadi salah satu pemenang di lomba blog genksukasuka cek disini yah : http://www.genksukasuka.com/2012/05/pengumuman-lomba-blog-genksukasuka.html segera kirim data diri anda, trimakasih

  9.   lucerahmaon 08 Mei 2012 at 10:22 AM

    Wew…gak baca detail. Gak ada yg fun dalam ospek krna ospek itu nyiksa setengah mati bahkan saya aja 5hari ospek turun 3kg berat badan loh. Tapi, justru setelah ospek selesai. kita bisa melihat apa tujuan dr penyelenggaraan ospek itu sndri

  10.   lucerahmaon 08 Mei 2012 at 10:24 AM

    aku di tanggerangnya dulu tinggal di perum 2.

  11.   mas ibethon 09 Jun 2012 at 11:22 AM

    wow.. gila bener ospeknya.. :D
    tpi seru juga tuh.. wow.. keren”.. :)

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply