• 14

    May

    Perempuan, Second sex??

    Perempuan, subyek kajian yang menarik dan membingungkan, telah banyak aktivis yang menghasilkan banyak sekali kucuran dana dan tenaga untuk LSM yang (katanya) peduli dengan permasalahan perempuan. Perempuan adalah objek ditengah masyarakat patriarkal. Second sex, demikian perempuan ini di lebelkan. Perempuan terkadang dikategorikan legitimasi teologis yang membuatnya hanyalah menjadi sesuatu yang memang sudah ditakdirkan untuk hidup dibawah laki-laki. Sementara itu, feminisme dalam diskursus perempuan hanya dianggap (sempit) sebagai suatu gerakan tentang apa yang dipahami sebagai realitas patologis akibat dominasi patriarki. Bagaimanapun, feminisme tidak selalu paralel dengan suatu kompleks bernama perempuan, terlebih jika menimbang perempuan sebagai kategori yang kompleks. Perem
    Read More
  • 12

    Mar

    Pionir sastra di Amerika

    Kalau hendak mencari perempuan Afro-Amerika yang piawai dalam dunia menulis, maka Toni Morrison patut dilirik. Penulis ini terkenal dengan sebutan novelis kulit hitam terbaik di Amerika. Bahkan ada sederetan penghargaan yang membuat perempuan ini menjadi pionir di bidangnya. Di antaranya pada 1993, ia menjadi wanita Afro-Amerika pertama yang memperoleh Nobel untuk sastra dan perempuan Amerika pertama yang dianugerahi penghargaan itu setelah Pearl S. Buck pada 1938. Sedang, Penghargaan lain yang dikantongi sebelumnya adalah National Book Critic’s Circle Award pada 1977 untuk novel Song of Solomon sedangkan Beloved meraih Pulitzer untuk fiksi pada 1988. Morrison cenderung menulis dengan gaya orang dusun yang sederhana, seperti tengah bertutur tentang pengalaman hidup seseo
    Read More
  • 9

    Feb

    Perempuan di Mata Hukum

    Many functions of the law as a protection for women Berbagai topik pembicaraan mengenai emansipasi, gerakan femininisme atau keseteraan gender memang ngak pernah jadi hal yang klise dari zaman ke zaman. Terbukti perempuan masih saja berupaya untuk tetap bisa mempertahankan hak-haknya. Perjuangan yang amat panjang dari jaman ibu Kartini dulu sampai jaman Maia Estianti saat ini. Dalam konteks ini yang saya maksud adalah hak sebagai personal diri perempuan dalam paradigma lingkungan yang dari zaman kartini. Perempuan masih dikotak-kotakan oleh adat kebiasaan kedaerahan, maupun hak sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya seperti yang dialami Maia Estianty. Kasus-kasus yang mengundang empati public terhadap sosok perempuan ‘terdzolimi’ oleh kaum laki-laki memang ibarat s
    Read More
- Next

Author

Search

Recent Post