• 26

    Aug

    Kloase Hujan Bulan Juni

    Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, begitu tulis seorang pujangga. Bahkan rindu pun harus dirahasiakannya, pada pohon berbunga. Ai menutup matanya, seolah coba mendamaikan pikiran-pikiran di kepalanya yang bergejolak. Bulan Juni sebentar lagi berlalu tapi tak sekali pun hujan menyapa kotanya. Kering, kaku. Orang-orang menyebutnya ia gadis petualang. Tiba-tiba datang dan kemudian berlalu, hilang. Seolah tak pernah ada jejak ditinggalkan kecuali pada hati yang sempat disinggahinya. Orang-orang sibuk bicara, tentang ia yang cinta pegunungan dengan segala hijaunya. Orang-orang ramai menerka, tentang ia yang kagum pada hamparan pasir putih pantai, juga langit biru. Ai hanya tak pandai bicara. Mulut boleh keluar seribu kata, seringnya makna tak terbaca, mungkin tak dibaca. Maka
    Read More
  • 26

    Aug

    Pulau Cinta

    (Putri duyung part 2) Aku masih ingat peristiwa terakhir yang terjadi. Aku berselancar di pantai Pororoca, Brazilia dalam sebuah mendung tebal tak ada peselancar yang berani menantang ombaknya. Kecuali aku. Entah kenapa tiba-tiba aku terjungkal, dan gelombang besar menelanku. Hai! Tapi aku tidak mati. Atau mungkin belum? Karena ku dengar suara perempuan berdendang. Saat aku membuka mata, aku terbaring di sebuah karang datar. Mereka semua mengelilingiku. Para perempuan jelita berambut hitam panjang. Salah satunya menyuapiku dengan cairan semanis madu. Aku tersanjung, namun bahagiaku sekejap hilang. Saat aku mengamati tubuh mereka yang setengahnya bersisik seperti ikan. Dan celakanya aku pun menjadi salah satu dari mereka. ARRKK!
    Read More
  • 3

    Jul

    Kepada waktu

    Kepada waktu… Kau berjalan dan berlalu Tanpa bisa disesali Seharusnya begitu, hanya aku yang sedemikian tersesat dalam ruang-ruangmu. Dalam sebuah magma yang memuntahkan rasa penyesalan. Karena ada hasil yang harus aku pertanggung jawabkan. Kepada waktu Diantara tembok-tembok terpisah oleh jarak. Seberapa jauhkah jarak hari ini dan esokmu? Kepada waktu… Aku mulai muak dengan hari yang datar. Kenapa tak cepat matahari kau terbitkan di ketimuran. Sedang malam ini begitu sepi dan aku dinaungi awan kelam. Lalu, kenapa tak kau biarkan saja hujan datang? Paling tidak filosofi air itu lebih menenangkan ruang. Kepada para pemuja waktu Ketahuilah kau tidak akan dapat apa-apa darinya. Diam hanya menjadikan dunia bisu dengan segala kemunafikan yang ada. Menunggu hanya menjadikan kau tu
    Read More
- Next

Author

Search

Recent Post