BERAPA IDEALNYA TPS DI JAKARTA?

30 Dec 2014

SAMPAH; permasalahan kota yang harus segera dibenahi.

SAMPAH; permasalahan kota yang harus segera dibenahi.

Lucerahma.com Pernahkah kamu melihat sampah membukit disebuah lahan kosong yang letaknya stategis ditepi jalan sehingga membuat kamu yang kebetulan lewat harus secara spontan menutup hidung? Atau sampah menumpuk di bantaran aliran sungai?

Pemandangan demikian lazim terlihat di Indonesia. Terutama bagi kota-kota besar yang sudah jadi langgana terbit di halaman muka lembar berita media nasional karena bencana banjir yang melanda kotanya. Saya menunjuk Jakarta sebagai Ibu Kota Negara yang harusnya punya tanggung jawab sosial besar untuk menjadi contoh bagi kota-kota besar lainnya di negeri ini. Dengan permasalahan kota yang sama yakni, volume sampah, kepadatan penduduk, budaya masyarakat yang hobi buang sampah sembarangan dan tidak adanya aturan hukum dan sangsi yang tegas dari pemerintah daerah untuk menanggulangi permasalahan sampah ini.

Selama ini kita hanya pintar untuk menjabarkan dampak dari adanya bukitan sampah ditempat yang tidak seharusnya ada. Seperti banjir, pencemaran air sungai, pencemaran udara akibat pembusukan sampah dan kasus emisi akibat sampah-sampah yang dibakar. Ditambah timbulnya berbagai penyakit akibat prilaku jorok masyarakat kepada lingkungan.

Namun kita tidak cukup pintar untuk membaca akar permasalahannya. Jadi bagaimana bisa ketemu solusi bila akar masalah dari sampah saja kita tidak tau? Kebanyakan masyarakat pintar menyalahkan pemerintah. Dianggapnya pemerintah tidak tanggap dan cepat dalam mengurus persoalan sampah kota. Demikian, pemerintah juga pintar menuding bahwa masyarakatlah yang tidak bisa menghilangkan budaya buang sampah seenak jidatnya. Alibi masyarakat, budaya itu bisa terbentuk karena tidak disediakannya secara layak dan memadai tempat penampungan sampah di DKI? Jika diusut demikian, pertanyaan haruslah kian meruncing. Memang berapa banyak sih, idealnya TPS itu harus tersedia pada setiap kota (termasuk Jakarta)?

Ideal TPS disebuah kota harus disesuaikan dari jumlah RW yang ada. Menurut data, DKI memiliki jumlah RW sebanyak 2.700. Sedangkan tempat penampungan sampah yang tersedia jumlahnya hanya terdapat 200 lokasi. Hal ini tidak ideal dan tentu saja menjadi akar permasalan kasus persampahan regional di Ibu Kota.

Menilik lingkup lebih kecil, faktanya. Jangankan 1 RW terdapat satu-TPS. Bahkan disetiap rumah, belum tentu terdapat 1 bak sampah di muka pekarangannya. Pernahkah kamu melihat ada tetangga kamu yang (diem-diem) nebeng buang sampah di bak sampah milik tetangganya karea ia tidak memiliki bak sampah sendiri dirumahnya? Demikian kasus lempar kabur yang sering dilakukan oleh pengendara motor atau pengendara dari arah jendela mobil yang dibuka, kemudian melempar sampah di aliran sungai atau lokasi yang tidak seharusnya ada bukitan sampah?

Kecenderungan budaya buang sampah sembarangan ternyata bukan hanya milik orang-orang dengan tingkat pendidikan dan ekonomi rendah, melainkan milik orang-orang yang harga dirinya rendah dihadapan manusia lain, di hadapan alam dan Tuhan (yang mencintai segala sesuatu yang bersih karena bersih merupakan sebagian dari iman).

Balik ke pertanyaan judul diatas. Setelah tau ideal jumlah TPS. Lalu kita juga harus tau apa fungsinya dan kenapa penting ada TPS disetiap RW tersebut? Point awal yang digaris bawahi oleh saya,

1. Agar pemberdayaan tukang sampah keliling di setiap lingkungan RW tetap ada sebagai profesi yang dihargai keberadaannya, baik secara tenaga dan upah

2. Supaya sampah rumah tangga yang mendominasi sampah di DKI tidak tercecer dibuang sembarangan oleh pemiliknya,

3. Agar tempat penampungan sampah dalam lingkup masyarakat setingkat RW bisa di manfaatkan sebagai lokasi pemberdayaan masyarakat peduli lingkungan atau kalau belum ada. Dapat ditumbuhkan komunitas itu. Misalnya, akan dibuatnya kemudian Unit Pengelolaan Limbah Sampah Masyarakat yang dikelolah oleh dan untuk masyarakat itu sendiri. Dari sampah bias dikelola menjadi kompos tanaman. Kompos kemudian bias dijual atau dimanfaatkan oleh warga untuk melakukan pertanian dipekarangan rumahnya. Dimana dari hasil tanaman, bias dipetik lagi manfaatnya bagi mereka.

4. Bila mencontoh peradapan simbiosis mutualisme bagi masyarakat dan TPS di Negara maju seperti Belanda Dan Newzeland. Tempat penampungan sampah disana pada skala (desa) telah dijadikan sebagai tempat pengembangan/penciptaan pembangkit listrik dari sampah. Yang prosesnya dibantu oleh kecanggihan teknologi. Tanpa perlu repot memisahkan sampah organic dan non-organik. Jadi sampah setiap rumah tangga yang ditampung di TPS dicatat beratnya. Darisana mereka akan mendapat alat tukar berupa volta penggunaan listrik gratis bagi alat elektronik yang ada dirumah.

Penerapan point terakhir, memiliki nilai lebih ekonomis dan berfikir maju dibanding dengan program bank-bank sampah untuk dibuat prakarya adau model kerajinan tangan ryckel yang selama ini ada. Karena bagi masyarakat urban dan modern, segi ektifitas soal tenaga dan waktu adalah yang utama.

Yang harus diperhatikan, pembangunan TPS pada lingkup RW harus memenuhi syarat kesehatan dan kenyamanan bagi warga yang tinggal paling dekat dengan TPS. Tempat harus luas agar bias menampung semua sampah seluruhnya. Dua-PTS jangan dijadikan tempat terakhir sampah itu terbuang. Melainkah harus diolah secepatnya sebelum terjadi pembusukan dan mnjadi permasalahan baru di masyarakat seperti sumber utama penyakit dan polusi udara tidak sehat/bau busuk.

Permasalahan sampah di kota-kota besar tidak akan teratasi bila kita masih hidup dengan sudut padang yang sama dalam menghadapi problematika sampah di kota-kota besar, seperti Jakarta. Dari bencana banjir tahun ini, ke bencana banjir tahun-tahun berikutnya. Soal sampah adalah masalah yang dibuat masyarakat dan menimpa kepada masyarakat itu sendiri. Bukan berfikir, sampah adalah solusi bagi masyarakat apabila bias mngelolanya dengan cara tepat dan bijak.

Desember, 2014.

Saya lucerahma, saya blogger cinta lingkungan.

Pesan buat kawan blogger/redaksi blogdetik:

Kapan dong ada kopdar bareng WWF lagi? :)) #semangat45 hehe


TAGS #SemangatNgeblog #Jakartalebihbaik #ideuntukjakarta


-

Author

Search

Recent Post