Ideku untuk PLN: membuat lisensi kemandirian listrik

16 Oct 2014

Hidupku di negeri ini tanpa kehadiran PLN rasanya mustahil akan membantu tercapainya cita-citaku akan masa depan. Kami adalah sebuah keluarga kecil yang tinggal dipinggiran kota bandung, kami menetap disebuah rumah yang termasuk rumah fasilitas KPR pemerintah. Periode tahun pertama yaitu tahun 1989-1990 kami hidup tanpa listrik karena kami tinggal lebih cepat dari penduduk sekitaran kami, melihat saudara-saudara kami dapat menonton TV (meskipun TV hitam putih pada saat itu), mendengarkan musik dan menikmati malam tanpa kegelapan cukup membuat aku berasa iri karena kami seperti hidup masih dijaman prasejarah.

Kehadiran listrik dalam kehidupan keluarga kami di perumnas di tahun kedua ibarat pelepas dahaga yang kami rasakan selama setahun terakhir, Alhamdulillah, terima kasih PLN. Kami pun mulai menjalani hidup dengan terang, kami menjalani malam tanpa kegelapan lagi meski sesekali listrik kami dipadamkan oleh PLN. Kami merasakan kemerdekaan sebagai warga negara indonesia karena kami pikir dengan adanya listrik maka kami akan menemukan ide-ide baru dalam hidup ini, rumah kami mulai dipenuhi oleh alat-alat elektronik sebagai penghibur keluarga kami ayahku membeli TV, Radio yang secara tidak langsung kami akan menuju kehidupan yang lebih baik karena wawasan dan pengetahuan kami bertambah.

Intinya, kehidupan jadi lebih baik, “for a better future begitulah istilah kerennya apa yang saat itu kami rasakan. Kami tumbuh dewasa dan Alhamdulillah ada di lingkungan pendidikan dan pergaulan yang cukup baik. Masa mulai berganti, teknologi semakin maju sehingga perkembangan teknologi ditempat kami, dinegara kami tidak bisa lepas dari jasa listrik dalam hal ini PLN menjadi sebuah tolok ukur keberhasilan sebuah organisasi perusahaan pemerintah sebagai kontributor dalam mendukung pembangunan Indonesia.

Kebetulan aku termasuk orang yang mengikuti perkembangan informasi dan teknologi, terutama dari berita media online, seperti berita yang disajikan detik.com dan blogdetik.com. Perkembangan PLN sebagai sebuah BUMN tak lepas dari pengamatanku naik-turunnya PLN secara kinerja perusahaan termasuk dalam menghadapi krisis moneter kurun waktu 1997-2000. Aku termasuk beruntung ada dalam keluarga yang berkecukupan artinya aku sangat bersyukur bisa hidup dengan fasilitas listrik, aku sering membaca surat kabar ternyata banyak keluarga yang kurang mampu akhirnya mereka hidup tanpa listrik yang pada akhirnya taraf hidup mereka ada di level bawah, jangankan menonton TV buat mereka untuk menikmati malam dengan terang lampu pun bahkan mereka tak sanggu, sekali lagi Alhamdulillah.

Pemberitaan PLN yang berhubungan dengan pelanggan menjadi hal yang cukup menarik untuk diamati karena dari situ aku bisa tahu beberapa permasalahan yang mungkin sampai dengan saat ini belum ada jalan keluarnya seperti tarif dasar listrik yang dinilai masih cukup mahal bagi sebagian pelanggan, gangguan listrik baik diperkotaan maupun di daerah, kematian listrik bergilir, pencurian listrik oleh orang yang tak bertanggung jawab, melihat beberapa hal tersebut aku merasa ingin menjabat sebagai karyawan PLN untuk lebih mengetahui bagaimana dan kenapa hal tersebut bisa terjadi. Seandainya, andai kata, jika aku menjadi sosok yang bisa berkontribusi atau menyalurkan konsultasi atau ide-ide bagi lembaga yang berjasa atas kemajuan negara ini terlintas meski sedikit dalam pikiranku. Menurutku PLN sebagai BUMN masih bisa berkembang kearah positif dan lebih maju dalam hal kinerja atau menjadi populer dimata pelanggan. Mungkin banyak dana yang sudah dikeluarkan PLN dalam hal mengembangkan diri atau diversifikasi produk yang bertujuan untuk dapat dinikmati pelanggannya diantaranya penerapan listrik pasca bayar dan pra bayar, dalam pikiranku macam provider simcard handphone saja ni PLN tapi jika dipikirkan lagi maka hal tersebut cukup menarik dan mempermudah pelanggan dalam menikmati fasilitas PLN.

Permasalahan PLN aku anggap wajar karena sebagai perusahaan yang melayani jutaan pelanggan tentu ada keputusan populer dan keputusan yang menurut sebagian pelanggan sebagai keputusan yang merugikan. Aku membaca http://sosok.kompasiana.com/2014/04/03/ketika-jepang-inginkan-ricky-elson-putra-petir-indonesia-kembali-644400.html aku sangat-sangat kagum akan ilmuwan dan praktisi teknologi muda ini Ricky Elson namanya, beliau hidup sederhana meskipun sangat mampu hidup berkecukupan, dalam hati aku berharap beliau menjadi pelopor yang muda, yang berprestasi dalam bidang teknologi kelistrikan dan menjadi panutan bagi anak muda pada umumnya dengan kata lain untuk menyumbang bagi kemajuan negara indonesia semua orang bisa jika mau begitulah asumsiku. Dari yang sudah beliau tunjukan dengan beberapa eksperimen beliau aku pikir pasti akan seru jika PLN berkolaborasi dengan beliau. Orang-orang kreatif dinegeri ini ada banyak akan tetapi belum ada yang terekspose oleh pemerintah, bayangkan oleh kita semua jika Ricky Elson ada ratusan ribu jumlahnya, berapa ide-ide kreatif yang dapat ditunjukkan kepada pemerintah.

Bahkan aku pernah membayangkan bagaimana jika aku dapat membuat listrik sendiri, jika dijelaskan dengan detail bagaimakah tanggapan PLN kalau aku berhasil membuat pembangkit listrik sederhana lalu aku sebarkan kepada tetangga-tetangga atau kerabat terdekat setelahnya aku meminta lisensi PLN untuk membuatkan sertifikat buat aku. Coba kita bayangkan jika ada seribu orang yang berpikiran sama denganku. Ini dapat menjadi jalan keluar dari kecemasan krisis listrik yang masih menghantui di daerah-daerah terpencil, atau menjadi solusi atas mahalnya tarif listrik. Manfaat yang didapat dari penggunanya pun selain mempermudah tugas PLN juga dapat memfasilitasi kreativitas anak muda dan menyediakan lapangan kewirausahaan dengan catatatan PLN menjadi Bapak Asuh yang selalu memberikan pelatihan dan bimbingan dalam lembaga bentukan PLN untuk melindungi secara legal aktivitas anak muda penerus bangsa seperti bayangan aku tersebut. Semoga ide ini bisa di mengerti dan menjadi pertimbangan.


TAGS


-

Author

Search

Recent Post