Pemilih muda bicara!

25 Jun 2014

Jika pemilih muda, suaranya penting untuk masa depan bangsa . Maka, ini adalah harapan saya untuk PEMILU 2014:

muda

Calon Presiden dan calon Wakil Presiden 2014 beserta tim kemenangannya. Kiranya harus punya jiwa inovatif dan kreatif, jangan sekedar punya semangat propokatif antara sesama pendukung. Karena semangat propokatif saja, untuk tujuan memperkenalkan/mempopulerkan capres dan cawapres yang diusung. Bukanlah bagian dari pendidikan politik yang baik. Meski cara itu cukup efektif menaikan ektabilitas. Seperti cara saling memblow up kekurangan sebagai senjata untuk saling menjatuhkan, cara ini nyatanya hanya akan menciptakan konflik, konflik dan konflik.

Apalagi kalau tujuannya untuk membidik perolehan suara pemilih muda. Saya kira cara itu terlalu kuno. Mengikuti arus tumbuh teknologi dengan berkampanye lewat sosial media memang sudah tepat; Tapi membombardir lini massa dengan status yang berbau ghibah, fitnah, menghina dengan sara, budaya, agama, pada kedua capres dan cawapres adalah cara yang kurang pantas dipertontonkan kepada generasi muda.

Menggaet simpati para pemilih muda tidak sulit!. tapi lakukanlah dengan cara2 elegan dan intelek. Jangan akomodasi jiwa-jiwa muda kearah mental premanisme. Bisa dengan menghidupkan motto atau slogan yang mendorong anak muda merasa dihargai dan diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam lingkup pemerintahan, agar timbul semangat aktif untuk ikut menyukseskan pemilu 2014. Yang terpenting analisis dulu, apa permasalahan yang anak muda hadapi saat ini, dan hadirkanlah sosok capres dan cawapres yang bisa memberi kami solusi.

Pada dasarnya kebutuhan generasi muda di negeri ini, hanya ada 2; membuka kesempatan lapangan kerja yang seluas-luasnya secara formal, atau non-formal seperti upaya pengembangan industri kreatif/entrepreneurship. Dan kebutuhan pokok berupa pendidikan. Bangsa ini perlu generasi muda yang cerdas untuk membangun apa yang ketinggalan dari bangsa lain dan itu diperlukan bekal kualitas pendidikan yang memadai serta terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.

Bisa juga sesuaikan, berkampanye sesuai bakat dan minat. Jaman sekarang sedikit dari kami (anak muda) yang cuma jadi anak rumahan. Kebanyakan kami pasti terkoordinir dalam suatu komunitas. Biasanya kami mempunyai bakat-minat tersendiri dalam hidup, dari hobi; ya musik, olahraga, fashion atau yang bersinggungan dengan sosial; kepedulian lingkungan, komunitas pengajar sekolah rakyat. Atau apapun, asal jangan orkes dangdut karena anak muda sekarang, jarang peminat kalau disuguhkan goyangan seronok ala biduan danggut. Mending menghadirkan band-band korea yang rok-roknya sama-sama pendek, tapi jogetnya asik.

Kalau perlu buat strategi khusus ‘yang anak muda bingiiit’. Anak muda adalah segmen berciri khas yang cara merangkulnya juga harus berbeda. Atau lebih tepatnya kita ingin dibedakan dari cara menarik simpati, seperti yang dilakukan pada orang-orang dewasa. Jangan menawarkan kekerasan dalam bentuk apapun, baik fisik apalagi verbal. Kata fisik bisa berarti pemberian benda-benda secara nyata, seperti kaos-kaos yang jelek itu, yang ngak gaul dan serat kainnya kaya saringan buat kelapa. kita buaat apaan? dipakai buat lap kendaraan juga bahannya gak nyerep air? Atau pin-pin yang segede alaihim gambreng. Kepada tim kemenangan, sebaiknya kalau mau kasih pin itu yang bentuknya lucu biar bermanfaat. Supaya kita pakainya juga ngak malu.

Bila ada timses yang memberi uang. Tentu kita akan senang. Tapi bukan jaminan kita akan memilih. Buat kami pilihan tetap ada dihati nurani. Karena sebenarnya, segalau-galaunya hati anak muda karena cinta sama pacar. Kami tetap lebih cinta tanah air ini. Dan rasanya jauh dari pikiran untuk mengkhianati bangsa sendiri. Sedangkan kekerasan verbal yang saya maksud disini bukan berbentuk ancaman nyata. Tapi lebih kearah penggiringan perspektif secara praktis kedalam pikiran anak-anak muda melalui media. Termasuk tulisan2 yang orang sebut ‘black campaign’. Semakin dijelek-jelekin seorang capres atau cawapres tertentu semakin dicari berita kebenarannya. Nyatanya cara-cara demikian bukan memberi simpati anak muda, malah memberi dampak penolakan. Itulah yang menjadi ciri jiwa-jiwa muda. Makin dilarang, makin coba diikuti.

Sedangkan cara-cara konvensional seperti menguntai janji-janji yang tidak rasional atau tidak sesuai kenyataan atau yang lebih akrab disebut modus. Itu juga tidak dapat diterima anak muda. Saya pribadi, ketika melihat ada cawapres bicara janji di acara debat jilid 1 untuk menegakan hukum seadil-adilnya padahal dia pernah tertimpa musibah yang dituntut harus bertindak adil. Tapi dia tidak bisa menunjukan sikap selaras anatar perbuatan dan apa yang diucapkan. Lebel minus sudah pasti langsung disematkan untuk cawapres tersebut.

Intinya, tidak ada anak muda satupun yang tingkat apatismenya overdosis buat kepentingan negara. Seorang teman saya dalam komunitas peduli lingkungan, mengaku dia apatis sama isu-isu politik. Dia bilang politik itu kotor. Sedang dia benci sama yang kotor-kotor sehingga dia tergabung jadi relawan mungutin sampah di senayan setiap hari minggu. (ngak nyambung hehe..). Tapi, menurutnya apatis itu bukanlah sikap yang tidak bisa dirubah. Kalau saja ada capres yang bersedia membungkus image politik tidak sekotor yang terlihat. Politik itu fun dan asik, tentu kami akan respek. Intinya, jadikan generasi muda haus akan informasi politik bukan antipati. Mungkin bisa dibuat image politik itu seperti es jeruk yang disajikan ditengah hari kala matahari teriknya minta ampun.

Pentingnya sosialisasi pemilu dan pendidikan politik.

Meski politik bukanlah bagian dari ketertarikan kebanyakan anak muda. Tapi anak muda tetap ingin menjadi pemilih yang cerdas dan bijak. Masalahnya, banyak anak muda yang belum tersentuh akan pendidikan politik yang memadai. Anak muda jangan sampai hanya di cap peduli pada dirinya sendiri saja. Jangan di pandang hanya tertarik pada group band dan girl band asal korea serta hobi nonton sinetron-sinetron FTV saja. Kita ingin dipandang lebih intelek daripada itu.

Bahkan sebagai anak muda, saya berharap agar kiranya sosialisasi pemilu dan pendidikan politik bisa dimasukan kedalam kurikulum sekolah-sekolah setingkat SMA atau mungkin kampus-kampus. Kalau seperti saya, yang kebetulan ambil jurusan kuliah hukum. Mungkin tidak ada masalah karena mahasiswa fakultas hukum akan dapat pendidikan politik dari dosen-dosennya, tapi bagi mahasiswa di fakultas lain seperti kedokteran, akuntansi. Dan lainnya, mungkin sosialisasi pemilu dan pendidikan politik tidak akan pernah dibagi dikelas. Sedangkan sebagai manusia bernegara, apapun bidang pendidikan kita, apapun profesi kita. Politik diakui ataupun tidak, sebenarnya dekat sekali dengan kehidupan kita, terutama dalam lingkup kehidupan bermasyarakat.

Di zaman ini, entah saya harus menyebut zaman apa. Sosialisasi pemilu dan pendidikan politik memang urgent dibutuhkan. Karena pikiran anak muda masih gampang digiring kesana-kemari oleh isi tontonan televisi. Terlebih media saat ini tidak bisa menjadi filter atau acuan. Saya pribadi, sungguh menyayangkan dan turut prihatin sedalam-dalamnya atas kegagalan media massa dalam memberikan pendidikan politik yang sehat dan santun kepada masyarakat, terutama generasi muda. Media saat ini, tidak bisa dipercaya karena berita yang disajikan terlalu berpihak dan meanstream.

Saya yakin, anak muda sebenarnya tidak anti-pati dengan politik, hanya kadang pura-pura tidak peduli tapi, apabila ada pihak-pihak yang dengan senang hati memberikan pendidikan politik melalui road show dari kelas ke-kelas semacam seminar, misalnya. Kami juga akan menerimanya dengan senang hati. Anak muda pikirannya masih masih terbuka lebar. Anak muda semangat belajarnya masih tinggi.

#Salam sukses generasi muda Indonesia!


TAGS #pemilihmudabicara #pemilu2014


-

Author

Search

Recent Post