Bicara golput atau memilih. Sama-sama bicara tanggung jawab

20 Jun 2014

Bersumber dari website data Komisi Pemilihan Umum (KPU), hampir 38% pemilih dalam pemilu 2014 ini berasal dari kaum muda. Ialah kita yang berusia 17 tahun - 25 tahun. Lalu mengapa kita masih pura-pura tidak peduli?

sosialisasi pemilu

Sebagian besar anak muda masih apatis untuk ikut ‘gembira’ dalam menyambut pesta demokrasi di negerinya sendiri. Padahal sadar atau enggak, nasib kita sebenarnya ikut tergantung pada orang-orang yang kita acuh-tak-acuhkan keberadaannya tersebut. Ialah para anggota DPR yang duduk di kursi senayan. Gak salah sih, kalau konsep berpikir yang mungcul di benak kita; buat apa ikut nyoblos, toh gue gak kenal. Nama dan muka mereka asing buat gue! Atau kalaupun kenal paling dia artis yang kadar kecerdasan otaknya masih dipertanyakan, Belum tentu juga setelah terpilih, para anggota DPR itu, nantinya akan bisa merubah nasib kita, memperjuangkan rakyat demi kemajuan Indonesia.

Diantara temen gue banyak yang berpendapat, kita golput atau ikut milih dalam pemilu. Toh tidak akan berpengaruh apa-apa, yang selesai dapet gelar sarjana, nganggur ya tetep aja nganggur karena yang jadi pengangguran di negeri ini bukan 1-2 orang. Pendidikan tetep aja mahal. Uang jajan tetep aja ngak naik dari tahun ketahun gara-gara udah ditikung sama kenaikan kebutuhan pokok untuk hidup, termasuk harga sembako, harga listrik, harga bensin. Dan itu semua berdampak langsung pada hidup kita.

Sedangkan di lain pihak, orang2 yang sudah kita pilih dengan asiknya bisa melenggang ke senayan. Berbuahlah buat mereka topi kehormatan, tunjangan seperti mobil mewah, rumah besar, jalan-jalan gratis keluar negeri dengan dalih studi banding, gaji puluhan juta rupiah, bahkan uang pulsa mereka aja masih ditanggung negara.

Sungguh ironi bukan?

Kalau dipikir miris, ya bukan main!

tapi bukan lantas itu jadi alasan buat kita skeptis. Itu salah! Andai kita mau kritis, lebih peduli pada nasib bangsa ini. Tentu kita (terutama kaum muda) mau ber-repot-repot- untuk lebih teliti melihat profil calon mana yang akan kita usung. Jaman sekarang, dunia udah ciut sedang otak manusia makin lebar. Kita bisa mengetahui “dosa-dosa” para calon leglislatif itu tanpa harus kita berhadapan langsung pada Tuhan dan menanyakannya. Cukup ketik nama orang yang ingin kita ketahui dan klik! Darisana bisa dilihat asal usul, karakter, paham kebangsaan yang dia anut, rekam jejak sejarahnya. Lalu kita bisa sedikit ambil kesimpulan pantas-tidaknya mereka mewakili kita sebagai wakil rakyat di senayan.

Karena buat gue, memilih golput dengan alasan tidak kenal adalah cerminan sikap yang kita pilih! Untuk pura-pura buta atas apa yang terjadi dibangsa ini. Masih banyak adik-adik kita di jam sekolah, tapi ada dijalanan untuk mencari uang. Masih banyak ibu-ibu kita yang terpaksa menjadi pelacur atau menjadi TKW di negeri orang ,lalu terancam hukuman mati karena berniat membela diri dari pukulan atau ancaman perkosaan hanya demi bisa makan. Kita memang tidak kenal dengan mereka, tapi mengapa kita turut serta menambah beban hidup mereka dengan pilihan sikap yang telah kita ambil?

Atau kita (memutuskan) memilih. Tapi cap-cip-cup, tidak tahu siapa yang kita pilih. Asal coblos kertas suara demi aktualisasi diri. Membuat foto selfie diri kita sendiri bersama jentik jari ungu lalu di upload di sosial-media. Dan bilang “gue ngak golput lho, tapi juga gak tau tadi gue pilih siapa ya..”dan apakah itu bisa dikatakan bentuk tanggung jawab atas hasil pilihan kita?

Jadi kalaupun kita kekeuh, bilang ngak bisa ngerasain secara langsung apa yang mereka kerjakan, si para anggota legislatif itu! Mungkin ada saudara kita di lain propinsi, di lain daerah, ditempat yang terpencil yang merasa ‘tertolong’ atas pilihan politik kita, atau paling tidak, minimal kita tidak membiarkan orang yang tidak terhormat prilakunya untuk duduk disana atau (kembali duduk disana). Di senayan.

Menggunakan hak pilih dalam pemilu merupakan kesempatan kita untuk berperan menentukan arah kemana pemerintahan kita akan berjalan; maju atau mundur. Sekali lagi, inilah satu moment dimana suara kita didengar, suara kita diperhitungkan. Jadi kenapa tidak kita manfaatkan kesempatan yang kita punya, hai teman-teman kaum muda?


TAGS #pemilihmuda #generasimuda2014 #pemilu2014


-

Author

Search

Recent Post