Cara baru menikmati durian

10 Jun 2014

#senin 9/6/2014.

Buah yang menjadi dewa di kota Medan ini memang banyak di gemari orang. Memiliki bau khas dan rasa daging buah yang lezat menjadi ciri utamanya. Seringkali orang menyebut dengan istilah si raja buah, apalagi kalau bukan durian. Disebut raja itu, karena harga durian relatif lebih mahal dibandingkan buah-buahan yang lain. Makin tebal dan legit daging buahnya, akan semakin mahal. Untuk mengkonpensasi agar semua kalang bisa mencicipi kelezatan buah ini, dibuatlah berbagai olahan serba durian.

Kalau di Palembang, terkenal dengan tempoyak yakni buah durian hasil fermentasi. Dimakan sebagai teman lauk dan nasi, rasanya sedikit masam dan biasanya dicampur dengan daging ayam. Meskipun namanya sama, tapi di Lampung tempoyak lebih identik dengan istilah untuk sambal berbahan dasar durian.

Sedang saat ini yang paling marak karena sudah di pasarkan di jejaring sosmed facebook, twitter adalah pancake durian; panganan ringan berisi vla pyur daging duren yang dibalut dengan kulit seperti kue dadar gulung. Cocok dimakan sebagai teman teh atau kopi.

Namun inovasi hasil olahan durian dapat di temui di Bogor kota. Tidak disengaja seusai pulang liputan, saya melihat papan nama dari dalam mobil bertuliskan “SEKOTENG DUREN”. Sebagai pencinta buah ini, maka tanpalah ragu saya melipir untuk mencicipi. Lokasinya kalau dari BTM (Bogor trade mall) turun ke bawah, arah jalan raya empang, pilih ke kiri, arah sukasari, jaraknya sekitar 75 meter dari pertigaan.

14eb0889a4c8ab5b7ced149b88adc3ff_duren

Pertanyaan yang bakal muncul kemudian, apakah sekuteng durian ini sama dengan sekuteng biasa? jawabannya beda! Tidak ada rasa pedes-pedes jahe, melainkan manis dan kuahnya lebih menyerupai yogurt yang kental. Tapi soal komposisi ? komplit seperti isi yang ada di sekoteng pada umumnya, mulai dari roti, pacar cina, cendil, kacang sangrai. Sebagai tambahan isi lainnya, ada selasih, dan daging kelapa muda.

Yang paling spesial dari sekoteng ini? tentu saja rasa duriannya. Aduhaii..rasanya seperti dari Bogor kita bisa melihat tugu guru patimus di Medan. Saking enaknya, apalagi kalau dimakan dalam cuaca yang panas di siang hari. Karena sekoteng durian ini disajikan dalam keadaan dingin.

Soal tempat, cafe ini memang terbilang sederhana. Yang jadi perhatian karena disini ada banyak varian minuman yang berbahan dasar durian. Selain sekoteng duren, menu yang bikin penasaran untuk dicicipi adalah late duren. Sajian kopi yang dikombinasikan dengan buah durian. Dan tidak hanya minuman, untuk makan kita bisa mencicipi somai yang lumayan enak disini. Harga rata-rata minuman dan makanan 15-25ribu.

Pengunjung cafe ini memang belum terlalu ramai, karena diakui pemiliknya, cafe ini baru saja di buka (April) 3 bulan yang lalu ketika saya kunjungi. Tapi, ide original, cara penyajian, serta citarasa yang beda dari yang lain, tentu memberi nilai tambah. Jadi pendapat saya sekoteng duren ini akan mudah memikat perhatian para pencinta kuliner. Bagaimana kamu penasaran ingin mencoba? datanglah ke kota saya, Bogor tercinta :D


TAGS


-

Author

Search

Recent Post