Saya korban kemeriahan Festival dongdang!

22 Feb 2014

Festival Dongdang di gelar lagi. Di 2014 ini, jatuh pada sabtu, 22 Februari. Hajatan akbar tahunan yang di fasilitasi oleh Pemda Kabupaten Bogor digelar dengan meriah. Meriah karena undangan yang hadir bisa mencapai ribu orang, sebagian besar yang datang asli warga Kab. Bogor. Bisa di bayangkan Seabrek warga tumpah serentak disepanjang jalan tegar beriman (arah Cibinong).

Dongdang itu sendiri, artinya “sesuatu yang digendong”. Cikal bakal budaya lokal yang tiada akan luntur. Historisnya perayaan ini di gelar untuk menunjukan cinta dan syukur kepada Allah dan Nabi S.a.w berkat rejeki yang dituai ditanah Bogor yang sedemikian subur.

Maka, bisa dilihat pada tiap perayaan ini tidak kurang dari 2000 arak-arakan dongdang, dari jumlah 40 peserta kecamatan, yang dijadikan pawai adalah hasil bumi keseluruhannya seperti buah2an, umbi2an, sayur, bahkan padi. Namun ada pula masyarakat yang membawa hasil olahan bumi tersebut menjadi sesuatu yang sudah siap dimakan seperti tumpeng setinggi 50cm.

Saya, menjadi salah satu warga Bogor yang turut gembira akan digelarnya festival ini, sekaligus juga sedih. Gembira karena menjadi pemandangan langka bisa melihat langsung-pawai makanan sepanjang lebih dari 50meter. Disertai iring-iringan yang membanggakan lewat simbol, musik dan tarian yang kental akan adat budaya tanah sunda. Apalagi ditengah terjajahnya anak muda kita dengan budaya barat dan korea.

Sedihnya karena dibalik pesta yang demikian meriah ini. Sebenarnya saya melihat, tidak hanya adat dan budaya saja yang sedang kita pertontonkan sebagai warisan budaya bangsa. Melainkan kemiskinan yang turun-temurun melekat.

Lihat! coba lihat lagi, saya kutip ini dari liputan 6. Bupati Bogor-Rahmat Yasin memungkas tanggapannya atas festival donggang hari ini, katanya “Hujan kan fenomena alam dan tidak bisa ditolak, tapi saya lihat warga bersemangat untuk mengikuti acara ini. Utuk itu, tradisi ini harus dikembangkan dan dilestarikan”

Agak sedikit kecewa ketika saya membaca apa yang ditulis di koran dan melihat ekspresi RY dari atas panggung saat festifas dongdang berlangsung. Mengingat RY itu bupati terpilih untuk kedua kalinya-tapi dia tidak melihat kebawah (ke rakyat). Hujan memang deras mengguyur perayaan ini, warga memang antusias untuk berebut dongdang. Tapi yang saya lihat. kebanyakan mereka yang atusian itu lantaran “Sayuran dan buahan yang didapat lumayan buat masak besok” seperti yang dituturkan seorang Ibu yang saya perhatikan dari tadi, rela meski harus terinjak-injak kakinya demi berebut berkah dongdang.

Sebenarnya pesta yang disebut pesta rakya ini, justru menjadikan rakyat sebagai korban. Tiap tahun peserta yang datang pasti ada aja yang pingsan, soalnya ricuh. Juga tidak sedikit yang jadi korban kejahatan. Seperti saya, alih-alih ikut berburu dongdang, HP dan kamera saya pun kena copet orang..arrgghh!

Saya bukan tidak setuju festival macam ini ada. Namun pihak penyelenggara..kedepan baiknya lebih bisa mikirin konsep ‘aman’ buat para warga Bogor yang berdatangan. Dan sedikit petuah, mending gak usah bawa atau pakai barang berharga kalau kita hadir di tempat keramaian semacam ini. Belajarlah dari pengalaman saya. Sekian.


TAGS #lovebogor Festival bogor


-

Author

Search

Recent Post