Kloase Hujan Bulan Juni

26 Aug 2012

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, begitu tulis seorang pujangga. Bahkan rindu pun harus dirahasiakannya, pada pohon berbunga.

Ai menutup matanya, seolah coba mendamaikan pikiran-pikiran di kepalanya yang bergejolak. Bulan Juni sebentar lagi berlalu tapi tak sekali pun hujan menyapa kotanya. Kering, kaku. Orang-orang menyebutnya ia gadis petualang. Tiba-tiba datang dan kemudian berlalu, hilang. Seolah tak pernah ada jejak ditinggalkan kecuali pada hati yang sempat disinggahinya. Orang-orang sibuk bicara, tentang ia yang cinta pegunungan dengan segala hijaunya. Orang-orang ramai menerka, tentang ia yang kagum pada hamparan pasir putih pantai, juga langit biru. Ai hanya tak pandai bicara. Mulut boleh keluar seribu kata, seringnya makna tak terbaca, mungkin tak dibaca. Maka ketika dia bilang cinta hujan, merindukannya, sesungguhnya ia hanyalah gadis yang sedang membenci, membenci sesuatu yang selalu datang bersama rintik hujan itu. Kenangan.

Lalu tulis pujangga itu, tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni. Menghapus jejak-jejak kaki yang ragu-ragu.

Ai masih menutup matanya. Dibiarkan pikirannya terus melayang. Ragu menyerang, meski ia tahu selalu setan di belakang rasa keragu-raguan itu. Apa yang ia cari, apa yang ia mau adalah keraguan. Matahari yang terbit, seolah muncul dari pucuk dedaunan, tak di pungkiri, disukainya. Bintang yang berkedip, sebagian terlihat jatuh, meski teman-temannya bilang itu bukan bintang jatuh tapi meteor. Dan dia mengaggumi bintang dari atas bukit.

Tak juga itu mampu menghapus rasa bahwa ia adalah gadis yang mencintai deru kendaraan yang berlalu lalang di jalanan kotanya yang kian pengap. Tak juga bisa menyaingi girang hatinya melihat senja menyembul di ufuk barat, di antara kabel juga antena yang menyeruak tak rapi dari atap rumah-rumah tetangganya. Maka dirinduinya kebijakan hujan bulan Juni untuk menghapus segala ragunya, mungkin malunya. Sebuah balkon di lantai dua pun sudah cukup baginya, untuknya bisa merasa tanpa ragu, tanpa malu.

Pujangga itu kembali menulis, tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni. Membiarkan yang tak terucap diserap akar bunga.

Haruskah terus menjaga kearifan ketika yang dirasa justru beban yang semakin berat? Ai masih tak ingin membuka matanya. Hidup di dunia yang hening tak pernah mudah baginya. Seringnya Ai diam dan berharap semua bisa diterima, dimengerti.

Salah. dia selalu salah mengartikan diam adalah emas. Bahkan kata harus diucap baru bisa dimaknai. Mungkin salah juga dia mendengar. Telinganya menangkap kebisingan, Kebisingan yang dikiranya keluar dari bibirnya merancau. Ai lupa, otaknya yang kecil itu lebih sering mengeluarkan suara daripada mulutnya. Kau diam, namun berharap orang bisa mendengarmu, mengerti maksudmu? Kamu menyiksa dirimu, Ai! begitu yang didengarnya, nyaring, dari seorang sahabatnya. Maka ketika bulan Juni hampir habis dan hujan tak kunjung menyapa kearifan aspal dikotanya. Ia merasa yang seperti ini harus diakhiri. Biarkan yang memang harus diucap terucap.

Kelopak mata Ai bergerak, meski tak juga terbuka. Sayup melodi keluar dari radio mungil di atas meja. Tangan Ai meraba, memutar tombol volume. Ah, suara itu, batin Ai. Sudah kuucap apa yang harus kuucap, lagi-lagi batin Ai berkata. Suara yang harus didengar mestinya didengar, kalaupun tak terdengar, kalaupun tak ingin didengar. Ai kembali membatin. Ai membuka matanya perlahan. Ditutup diary di depannya. Lagu itu masih mengalun, sendu. Ai memasang telinganya, menunggu penyiar menyebutkan judul juga penyanyinya. Tak lama. Mesin Penenun Hujan, suara penyiar menyebut judulnya. Apik. Baru kali ini Ai mendengarnya dan dia langsung menyukainya. Frau, nama penyanyinya. Apa pula artinya, batin Ai bertanya.

Tetapi esok nanti kau akan tersadar
Kau temukan seorang lain yang lebih baik
Dan aku kan hilang, ku kan jadi hujan
Tapi takkan lama, ku kan jadi awan

Batin Ai kemudian melayang, mengingat lirik juga melodi yang baru didengarnya. Semua tentang hujan. Sajak yang baru dituliskan di lembar diarynya adalah sajak oleh seorang pujangga yang mungkin juga pecinta hujan, Sapardi Djoko Damono.

Ai, gadis pecinta hujan yang ditinggalkan hujannya. Ai, gadis yang mencintai hujan dan masih akan mencintai hujan dengan atau tanpa bulan yang sama. Dering telepon genggam mengagetkan Ai, membuat gadis itu tersentak dari kursi. Sebuah pesan singkat diterima. Kingkong, begitu nama yang tertera di layar. Diraih telepon genggam dan langsung dibuka pesannya.

New massage : Liat keluar jendela!

Pesan yang cukup singkat dari nomor seseorang yang membuatnya memendam ragu bertahun-tahun sampai karatan hatinya. Tapi tubuh Ai tidak begerak. Beku. Pelan Ai menyibak tirai jendela kamarnya. Bibirnya pun langsung mengembang oleh senyuman.

“Ohh, hujankah?! “ Pekiknya lirih.


TAGS Cerpen


-

Author

Search

Recent Post