Toko Doa

26 Aug 2012

Ingin doa di dengar dan cepat dikabul? Spesialis bikin doa. Garansi doa gagal. Uang kembali!

Pendosa sering salah tingkah sewaktu berdoa. Dia tidak percaya diri dengan untaian kata yang diucapkannya sewaktu ia berdoa. Dia tukut Tuhan malas mendengar doanya. Dia takut Tuhan marah atau tersinggung lantaran dia tidak pandai melantunkan ayat-ayat doa.

Pendosa gelisah. Lalu, terfikir olehnya untuk mencari orang yang ahli dalam membuat doa. Dia ingin memesan doa dengan kata-kata indah agar Tuhan senang mendengar doanya. Walaupun masih lekat dalam ingatan. Ucapan yang pernah disampaikan ustad Ian Sauri, guru ngaji semasa kecilnya di desa. Beliau berkata, berdoalah dengan bahasa yang kau bisa. Tuhan tidak pernah mempersulit makhluk yang ingin berdoa padanya. Tuhan tak peduli diksi. Ketulusan dalam berdoa, itu cukup.

Dulu dia percaya tapi, sekarang ragu. Apa kalimat itu masih berlaku. Dulu ibu yang mengajarinya berdoa. Hingga pujian dari sang ustad mampir untuknya, lantaran doa yang di lafalkannya begitu indah. Sekali lagi, itu dulu. Dia takut Tuhan sudah tidak lagi mengenali suaranya.

Suara kanak-kanak dengan sekarang kan pasti berbeda, pikirnya. Apalagi sudah lama ia tidak pernah berdoa. Jadi ia putuskan mencari orang yang ahli dalam membuat doa. Ketemu! Matanya kini tertuju pada sebuah toko yang tampaknya baru buka. Dia tidak pernah melihat toko ini sebelumnya. Toko ini terletak di sebuah kota, dipertengahan antara tempat permukiman elit dan kumuh, tempat dimana ia tinggal.

Didepan toko itu terpasang spanduk besar bertulis kata yang mengundang banyak perhatian “Ingin doa didengar dan cepat dikabul? Spesialis bikin doa. Garansi doa gagal. Uang kembali.”

Mantap ia masuk kedalam toko itu. Terlihat antrian panjang yang diisi oleh mereka yang berwajah penuh kecemasan. Sama seperti dirinya, orang yang datang pasti juga ingin doanya didengar dan dikabul oleh Tuhan. Terlepas dari masa lalu buruk yang dilakukan.

Doa apa yang kamu inginkan anak muda? Tanya seseorang. Rupanya ia penjaga toko tersebut.

Pendosa tampak bingung, ditanya seperti itu. Dia tidak menyiapkan catatan permohonan pada sebuah kertas. Seperti yang dilakukan banyak orang disini.

Penjaga toko doa itu tertawa. Tangannya menunjuk seorang bapak berpakaian rapi berdasi, rambutnya klimis, tubuhnya wangi. Dia datang untuk minta kejayaan.

Kalau wanita baju merah itu, tunjuk penjaga toko lagi. Ia meminta cantik paripurna. Ada diantara mereka yang minta cepat didatangkan pasangan. Tangannya menunjuk laki-laki paruh baya yang berdiri memenuhi antrian.

Apa semua itu bisa dikabulkan segera oleh Tuhan?

Ya, tentu saja! Semua doa disini dikabulkan dengan instan.

Benarkah? Ia terkejut antara ragu dan senang.

Sudah cepat katakan apa yang menjadi doamu, anak muda? kata penjaga toko itu.

Aku hanya ingin minta satu hal pada Tuhan. “Tolong jangan pernah lagi, tinggalkan aku dalam keadaan sendirian, seperti saat ibuku meninggal dan bapakku pergi bersama jalang”. Jawab pendosa kemudian.

Penjaga toko doa itu geram. Dia mengusir pendosa untuk segera keluar dari tokonya. Tanpa sengaja pendosa itu kembali membaca isi tulisan di sepanduk besar.

Ingin doa didengar dan cepat dikabul? Spesialis bikin doa. Garansi doa gagal. Uang kembali. Namun, ia tidak sempat melewatkan kutipan kecil dipojok bagian kiri spanduk yang terpampang! Bertuliskan #ketentuan: hanya untuk mereka yang setengah hati percaya kepada Tuhan.

(Al-Baqarah ayat 186, Al-Imron ayat 45, 155)


TAGS cerpen


-

Author

Search

Recent Post