Gemericik.

13 Feb 2012

every science in the world can be learned from the books. except one, the science of sincerity

Gemericik hujan yang dilihatnya dari balik jendela kamar merupakan obat dari setiap kegundahan hatinya yang hadir berkepanjangan. Rasanya tak pernah usai. Sudah dua tahun ini dia merasakan hidup berjalan begitu sepi tanpa kegembiraan tanpa kesedihan. aku sudah seperti mayat hidup yang lupa akan bagaimana mengekspresikan sebuah rasa. Dia hanya merasa sedang terperangkap oleh sebuah ruang yang sesak dan pengap oleh berbagai masalah hidup bertumpuk tidak terselesaikan. Ibarat benang kusut sulit rasanya untuk kembali terurai. Putus asakah?

Menangis sepanjang malam dengan wajahnya yang di telungkupkan didalam bantal agar isakannya tidak terdengar. Aku tidak ingin orang lain tahu gundah ini entah dia senang atau terbebani dengan menyimpan masalahnya sendiri, tapi orang yang melihatnya dari luar semuanya tampak wajar.

Inikah karma karena dulu aku pernah menyakiti hati seseorang? tanyanya. Sehingga, Tuhan murka dan hilang kepedulian untuk menolongnya agar dapat keluar dari ruang menyesakkan ini. Sepertinya dia telah menyadari bukan orang lain yang menyakitinya, melainkan dirinya sendiri. Layaknya orang berputus asa lalu, bunuh diri. Mati badannya, namun jiwanya hilang arah.

Ada satu cara untuk menghilangkan kegundahan. Dia mengingat satu kata yang pernah disampaikan seorang Ustad pada sebuah ceramah tablig akbar yang diselenggarakan dilingkungan rumahnya pada lebaran setahun silam. Ikhlas. Satu kata itu terus membuatnya terhenyak. Bagaimana tidak, satu kata itu mudah di ucapkan, tapi setelah sekian lama. Dia tidak bisa memaknai kata itu.

Ikhlas.

Ya, ikhlas

Kata ustad itu. Orang sepertiku harus ikhlas entah apa yang membuatnya lucu, tapi dia tertawa bila mengucapkan kata itu.

Orang bilang dia gila. Namun, kedua orangtuanya membantah anggapan itu. Dia terlihat tenang, tidak pernah mengamuk seperti orang gila kebanyakan karena itu dia tidak di hunikan ke rumah sakit khusus orang-orang gangguan jiwa.

Mereka hanya berfikir kalau dia hanya lelah bekerja. Dia carier women, seorang pengacara muda. Bila telah berhasil menuntaskan perkara orang lain, ada rasa puas yang sulit dikatakan. Dia sanggup menyelesaikan masalah orang lain, tapi tidak bisa menyelesaikan masalah pribadinya sendiri. Mungkin sebabnya itu. Ya, ikhlas. Sulit sekali menerapkan kata itu.

Dia kembali tertawa tanpa sebab. Nadila melihat kelakuan sahabatnya itu dari luar kamar.

Apa tidak sebaiknya Karin kita bawa berobat saja, tante? Nadila berusaha menunjukan keprihatinannya.

Karin tidak sakit! jawab mama Karin. Bibirnya bergetar, ada sesuatu yang bergemuruh di hatinya.

Tidak ada bantahan yang di ucapkannya pada mama sahabatnya itu. Guratan kecemasan di wajahnya sudah menjelaskan semuanya. Ibu mana yang tidak sedih bila melihat anaknya harus terkerangkeng dalam rumah sakit jiwa.

Di luar sana masih hujan, gemericik sedih hatinya juga belum reda.

Bogor, kala hujan -Des17- 2011

“every science in the world can be learned from the books. except one, the science of sincerity.”


TAGS CERMIN


-

Author

Search

Recent Post