Perempuan di Mata Hukum

9 Feb 2012

Berbagai topik pembicaraan mengenai emansipasi, gerakan femininisme atau keseteraan gender memang ngak pernah jadi hal yang klise dari zaman ke zaman. Terbukti perempuan masih saja berupaya untuk tetap bisa mempertahankan hak-haknya. Perjuangan yang amat panjang dari jaman ibu Kartini dulu sampai jaman Maia Estianti saat ini. Dalam konteks ini yang saya maksud adalah hak sebagai personal diri perempuan dalam paradigma lingkungan yang dari zaman kartini. Perempuan masih dikotak-kotakan oleh adat kebiasaan kedaerahan, maupun hak sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya seperti yang dialami Maia Estianty.

Kasus-kasus yang mengundang empati public terhadap sosok perempuan ‘terdzolimi’ oleh kaum laki-laki memang ibarat sebuah magnet di tengah masyarakat. Yang masih sering terjadi adalah kasus KDRT baik itu yang dilakukan secara fisik maupun mental terhadap diri si perempuan. Mana yang lebih parah? Dua-duanya sih parah tapi, penganiayaan secara mental (batin) bagi perempuan menurut saya secara psikis lebih ’sadis’. Misalnya; ‘pemaksaan’ suami kepada istri agar bersedia di poligami (kalau tidak mau di cerai) atau perempuan hanya dijadikan objek scoring bagi pihak laki-laki. Atau yang lebih sering terjadi namun terabaikan ialah KDRT melalalui bentuk perkataan secara verbal yang bermaksud menghinakan ‘kekurangan’ dari si perempuan itu sendiri.

  • Jika hak asasi perempuan terabaikan, berbuatlah upaya untuk mencari perlindungan jangan hanya pasrah pada keadaan
  • Masih ingatkah sebuah lirik lagu “Sejak dulu wanita di jajah pria” ? Perempuan dalam lirik lagu itu di gambarkan Makhluk paling lemah dan tidak berani berbuat apa-apa. Image yang terlanjur melekat seperti itulah yang menjadikan tempurung bagi diri perempuan itu sendiri. Well, perubahan persepsi mengenai hal itu sangat diperlukan karena orang lain akan menganggap kita (perempuan) lemah apabila kita menyakini dan mengamini bahwa diri kita itu lemah.

    Untuk membuat perempuan jadi kuat itu ada ilmunya. Maksudnya bukan ilmu bela diri sejenis taekondow yang seenaknya bisa dipakai untuk main hakim sendiri. Sebagi perempuan kita memang jangan sampai melupakan kodrat untuk menjadikan laki-laki sebagai panutan/ imam selama dia tidak merampok hak asasi kita sebagai perempuan.

    Bagaimana jikalau hak perempuan sampai terabaikan? Berbuatlah upaya untuk mencari perlindungan diri. Di Indonesia ini sudah ada undang-undang bahkan lembaga yang siap jadi tameng untuk melindungi hak-hak kita sebagai perempuan. Sebut saja, Komnas Perempuan yang salah satu fungsinya sebagai fasilitator untuk kepentingan pencegahan, penanganan dan penghapusan segala bentuk tindakan kekerasan terhadap perempuan. Adanya Ibu mentri pemberdayaan perempuan dan juga saat ini banyak sekali LSM yang berkonsentrasi dalam case yang sama.

    Selain lembaga, Indonesia juga memiliki Undang-undang yang memberi perlindungan mutlak terhadap hak asasi perempuan. Diantaranya :

    634dcc25c7654fd933f2b2efb263e629_untitled

    So, jangan ada lagi deh, perempuan di indonesia yang menerima KDRT tapi, tidak bisa berbuat apa-apa karena takut atau malah tidak tahu harus berbuat apa. Karena sedemikian penghormatan yang dihadiahkan hukum di negeri ini untuk perempuan. jadi, jadi jangan hanya nangis lalu diam menerima perlakuan yang menyakitkan karena pada dasarnya hak asasi itu adalah anugerah yang diberikan tuhan kepada setiap manusia yang wajib diperjuangkan. Dan satu hal yang perlu di ingat, bahwa di sayangi, dihormati, diperlakukan lemah lembut adalah Hak Azasi Manusia, apapun gendernya.

    Sekian, semoga posting ini ada manfaatnya khususnya bagi perempuan :D

    aksi peduli HAM


    TAGS Perspektif Indonesia human right blog award Lomba IHRBA


    -

    Author

    Search

    Recent Post