Why I love writing?

1 Jan 1970

Hendak menggeluti pekerjaan di bidang hukum adalah cita-cita besar saya. Sedangkan jurnalis adalah soul saya. Saya mengingat jelas sejak kapan saya jatuh cinta pada dunia media. Yakni, sejak saya mulai giat menjadi aktifis pers mahasiswa kampus. Tidak di awal ketika saya terdaftar menjadi anggota persma. Entahlah, mungkin itu karena senior saya tidak menularkan kecintaan tersebut. Atau malah saya berfikir sebenarnyapun mereka hanya sekedar menjalankan organisasi kampus dengan baik dan benar saja! Bisa menerbitkan majalah setahun 2x, mencetak news letter. Rekrutmen anggota baru setiap MABA datang. dan mengadakan pelatihan Diksar. itu saja.

2006. Di tahun pertama keikutsertaan saya di kegiatan persma kampus. Rasa senang menulis itu belum tumbuh mencuat. Karena Bang Tatu Adytia Semedhi, yang merupakan pemimpin redaksi organisasi persma di kampus saya itu tidak pernah menulari we love writing coz we Adigama. Tidak pernah! but, He is a great leader character. Jauh dari kesan ingin dihormati dan sok tegas. Sampai semua juniornya tidak menghargai dia sebagai ketua tapi, sebagai Kakak. I think, it’s better than a leader. Walaupun, saya tidak banyak menyerap ilmu-ilmu jusnalisme, apalagi belajar tentang sastra dari priode kepemimpinannya. Tapi, warisan ilmu tentang make ourselves be leaders coz setiap pribadi adalah pemimpin. itu juga baik. Thanks bang Tatu…

Lalu, tempat belajar saya di tahun berikutnya adalah Andhika Suwandjana. Senior satu angkatan saya di kampus. Dia pribadi yang ce-nge-nge-san tapi, serius. Saya lebih merasa “tidak berjarak padanya”. Jadi, saya merasa lebih masuk ketika dia mengajarkan banyak hal kepada saya dan tidak hanya tentang dunia jusnalis. Lainnya, yang saya suka dari “pendidikannya” ialah ketika saya salah. Dia langsung menegur. Tidak jarang malah jadi galak. Sampai saya suka diam-diam nangis beneran kalau proses “pendidikannya” selesai. Hahaha… Sialan! :D Tapi, karena dialah. Saya jadi lebih “peka” terhadap sekeliling. Saya bisa ‘membaca’ orang-orang dalam lingkungan tempat saya berpijak. Mana yang putih, hitam, atau abu-abu monyet. Karena dia jugalah saya sekarang berani berdiri di depan banyak orang dan berbicara. Karena “jadi jurnalis itu bukan sekedar dituntut bisa menulis” katanya. Karena dia jugalah jiwa kritis dalam tulisan saya terbangun. So, I wanna say thanks to kak dika…

Terutama untuk kesempatannya pada keikutsertaan saya dalam lomba debat hukum. Dan membuat sebuah organisasi baru di lingkungan kampus. Original of thinker bersama-sama. Itu pengalaman yang kerennn buat saya. :)

Dan akhirnya, soul rasa kecintaan terhadap jurnalis itu mulai saya rasa ketika saya bergabung dalam Forum Pers Mahasiswa se-Jakarta pada awal 2009. Saya menjebloskan diri makin dalam di dunia pers, waktu itu saya hanya berdua dengan Arrinda. Dia itu teman seangkatan saya. Sekaligus orang yang memperkenalkan saya dengan para anak-anak persma lain, dari total 16 kampus lain yang ada di jabodetabek. Yang retorikanya, cara berfikir kritisnya, juga tulisannya lebih memukau di mata saya. Disinilah saya banyak belajar melalui diskusi-diskusi dan seminal seputar jurnalisme dan kepenulisan. Rutinitas kegiatan tersebuat intensitasnya juga terbilang sering. Bahkan sering sampai larut malam kalau hari Sabtu. Hingga saya rela mendelete jam berdua saya with pacar dan saya juga sampai gantian di delete balik jadi pacar. hahaha :D

Sejak itulah, ativitas liputan saya. Tidak lagi di lakukan hanya dengan menggunakan radio tape, camera atau handycam. Karena moment itu harus direkam dengan keseluruhan paca indra yang kita punya. Kemudian, barulah menuangkannya ke dalam tulisan. Dengan kata lain, saya mengajak serta seluruh anggota tubuh saya untuk melakukan kegiatan jurnalisme itu. It’s verry fun and I love writing.

Dalam masa pengembaraan saya dalam pers mahasiswa. Saya pernah mencicipi peran ini.

2006-2007 reporter di majalah hukum kampus UNTAR, Adigama magazine.

2007-2008 editor (tempat sama)

2008-2009 litbang dan sebagai sie. acara dalam eksekusi seminar jurnalistik kampus.

2009-2010 presidium di FPMJ, Forum Pers Mahasiswa se-Jakarta dan Pemred untuk majalah Solidaritas FPMJ untuk periode tahun yang sama.


TAGS 2585


-

Author

Search

Recent Post