D’Journal

Tempat mengolah rasa, menjadi kata

Belajar mengerti keinginan PUTRA

Siapapun pengunjung mungkin tertegun sejenak ketika membaca postingan dari blog The Green Pensieve’s yang ditulis oleh mbak Thia. Biarpun saya belum mengenalnya secara pribadi. Tapi, rupanya dia selalu membawa real-life kedalam postingannya. Mengajak pembaca ikut  responding to the life or even indirectly asked for a solution. I think, that’s good because saya ngak pernah bisa melakukan itu dalam ruang blog saya sendiri. *pilihan*

Saya tertarik ketika dia menceritakan tentang anaknya Vania dan saat itu pula saya langsung juga teringat dengan keponakan saya, namanya Putra Aditya. yang sekarang sudah duduk di bangku kelas 1 SD. Saya tidak ingin menyebut ini sebagai a problem but, This is a study of life karena kita bisa belajar sama-sama melalui cerita orang lain dengan menyimak dan mengambil nilai positifnya.

9fc34a69b4b864cf2ba04d6c3c57cf3c_kid_drawing1

Pribadi Putra, keponakan saya yang pendiam itu pernah mengundang cemas berlebihan Mamanya, yang juga kakak sepupu saya, namanya Mbak Ika. Dia itu seorang ibu muda yang fighter banget karena sudah single parents sejak usia Putra menginjak 2Thn. Jadi, sejak itulah apapun yang berkaitan tentang Putra dibaginya untuk dicarikan solusi terbaik bersama sama dengan keluarga. Termasuk ketika mbak Ika dipanggil oleh guru untuk datang ke sekolah. Waktu itu Putra masih TK nol kecil. Di beritahukan gurunya kalau tingkah laku Putra selama ini di sekolah tidak seperti teman-teman sekelasnya yang lain. Putra sangat Over pasif, di dalam kelas hanya diam dan menyimak guru ketika mengajar dikelas dan juga hanya menyimak ketika teman-temannya sedang bercanda dan bermain pada saat istirahat.

Gurunya hanya meminta Mbak Ika untuk lebih memprihatikan pola pribadi anaknya, “Kasihlah perhatian yang ekstra dan motivasi pada anaknya karena gurunya menilai Putra ini seperti anak yang kehilangan percaya diri dan bahkan berfikir kalau ada tekanan didirinya”. Karena gurunya khawatir Putra minder karena waktu acara outbound Putra pernah nangis lantaran tidak ikut karena tidak didampingi ayah seperti kebanyakan murid lain (abis mbak Ika juga takut ketinggian). Tapi, entahlah, mbak Ika cuma sedih saat cerita dengan saya.

Setiap orangtua pasti akan galau jika mendengar anaknya di nilai “bermasalah” oleh orang lain. Namun, sepengamatan mamanya dan kami sekeluarga. Putra ini kalau dirumah nyatanya ngak sama sekali pasif dan pendiam. Dirumah dia bermain wajar-wajar saja, main bola dengan Eza (sahabatnya disamping rumah), kadang main PS dengan Omnya, ngerecokin mamanya masak kalo pagi, kadang juga mainin laptop saya sampai error, Malahan saya menilai ponakan saya ini ndridip dan hiperaktif. Dalam artikata bahwa Putra menunjukan pola tingkah laku yang berbeda apabila dia sedang ada di dalam rumah dengan pada saat ia berada di luar rumah.

Jadi mulailah kami sekuluarga membantu mbak Ika untuk mencari dimana letak afield-nya dengan cara mengajak Putra berkomunikasi. Saya pernah mendapat input dari kawan saya yang belajar psikolog. Katanya “teknologi dan kondisi perkembangan sosial hari ini sudah memungkinkan bila anak dalam usia dinipun untuk diajak bicara selayaknya seperti orang dewasa”

Awalnya memang pasti akan menemui kesulitan karena anak akan banyak mengelak dan mengatakan “i’m fine, bunda” begitu istilahnya. Seperti tidak terjadi apa-apa. Mungkin karena faktor takut atau apalah kita engak pernah tau isi jalan fikiran anak kecil. Benarkan? hingga sempat juga putus asa dan menyimpulkan sepihak “oh, mungkin ini just faktor comfort zone sajaNamun, logikanya kalau memang ini faktor comfort zone biasa. Anak hanya butuh adaptasi beberapa waktu pada lingkungannya, pada gurunya, pada teman-temannya. Setelah itu dia mungkin akan terlihat berubah lebih relaxed dan mencair. Tapi, ini tidak. Hingga sekali lagi gurunya memanggil mba Ika pada saat pembagian hasil laport Putra. Dikatakan gurunya “berdasarkan nilai akademik tulis, baca, menghitung, terutama menggambar Putra tidak bermasalah, bahkan dia termasuk diantara 3 siswa dengan nilai terbaik di kelas. Hanya saja daya sosialnya yang kurang”

Kondisi sosialisasi pada anak memang dipertanyakan namun, tidak pernah ditanyakan pada orang dewasa. Bingung ya? hehehe…mungkin kalau Putra ini sudah kuliah. Pihak mamanya juga sekeluarga ngak akan serempong ini menanggapi. Alih-alih dianggapnya sebagai kondisi privasi :D   

db10b7ed48a18dfcbc6ec8012f4a8de0_mendekorasi-kamar-anak-dengan-hasil-karyanya-sendiri

*

Singkatnya biar isi post ngak terlalu panjang. Butuh kesabaran juga jauhi emosional dan putus asa, beri perhatian tidak hanya dari orangtua (Tapi juga dari tante, om, kakek-nenek, sepupu dll), juga butuh kedewasaan sikap untuk membaca secara tepat apa maunya si anak tersebut. Hingga akhirnya terungkaplah sebuah keinginan yang tersirat walaupun tidak langsung terucap dari bibir Putra. Rupanya dia tidak nyaman dengan sekolah itu karena guru-gurunya terlalu memberi “sekat” pada murid laki-laki dan perempuan. Contoh : istirahat murid laki-laki harus bermain bola, bermain di luar yang membutuhkan banyak gerak tubuh sedangkan Putra kerap kali malas di ajak main oleh teman-temannya karena bajunya akan basah dan “main lari-larian becandaan gitu aku jadi capek, bunda” begitu katanya. Tapi, mba Ika berhasil mengerti kalimat sederhana dari anaknya. Yang mungkin bisa di artikan itu sebagai bentuk keluhan atau protes.

Putra itu seneng sekali menggambar. Jadi, kalau di sekolahnya gurunya itu lebih memperhatikan bila murid-murid perempuan yang menggambar. Kesimpulan ini di tangkap mba Ika setelah berminggu-minggu melakukan reportase pada anaknya sendiri :D

Dan suatu hari Putra juga pernah menceritakan salah seorang temannya pada saya “Ante, temen aku Ningtyas itu gambarnya jago soalnya dia diajarin bu Eni mulu dan dia juga gambarnya lebih banyak di pajang di kelas. Punya aku aja cuma satu yang di pajang” kata Putra sambil menunjukan hasil karya gambarnya. Ceritanya waktu itu Putra lagi gambar wajah saya lho, tapi hasilnya…*Jreng Jrenggg* bagus sihh, tapi tetep lebih bagus hasil karya Tuhan yang asli. :D  Hahaha *tante narsis*

Jadi, begitulah hingga keputusannya Putra akhirnya di pindahkan sekolah pada naik-naikan kelas TK nol besar. Alasannya semata bukan karena masalah kecil itu. Tapi, mbak Ika telah menyadari bakat lebih atau bisa di katakan hobi Putranya yang lebih menyukai bidang gambar jadi, mbak Ika memilihkan sekolah yang baru yang memang ada prioritas khusus pengajaran di bidang gambar dengan guru-guru yang juga lebih berkompeten dalam bidang itu. Walaupun di sekolah barunya Putra masih pendiam di hampir dua bulan pertamanya tapi, ada perubahan ke arah positif setelah diberikan motivasi “kalau gambar-gambar Putra tidak akan lebih bagus hasilnya daripada teman-temannya kalau dia tidak mau banyak bertanya pada guru dan teman-temannya yang dianggapnya lebih jago menggambar”

Dengan semua pengertian itu. Alhamdullilah Putra kini jadi lebih interaktif di kelas terutama saat jam pelajaran menggambar. Dan Putra juga sekarang hobi banget ikutan lomba-lomba menggambar loh baik dari ajang 17 agustusan antar RT/RW, antar TK se-depok dan juga lomba nasional yang diadakan Gramedia dan toko buku lain. Malah Putra sudah koleksi 7 piala dari hasil ke menangannya dalam bidang gambar itu. Kebiasaan interaktif itu membuatnya kini jadi lebih kritis dalam melempar pertanyaan ini dan itu (tidak hanya tentang gambar). Dan itu yang saat ini jadi bikin tambah pusing Mamanya. Hingga bikin aku jadi nyeletuk ke mbak Ika “dulu si Putra pendiem dan pasif dijadiin pikiran. Sekarang si Putra banyak tanya juga masih aja ngeluh pusing anaknya bawel pisan” [Hadeehh... emak-emak rempong :p ]

Bagi saya yang belum punya anak ini merupakan pelajaran. Kalau anak-anak itu memang pola pikirnya dan prilakukan memang harus selalu butuh perhatian dan pengertian ekstra dari orang dewasa. Hal itu mungkin akan berlangsung sampai dia melewati masa-masa puber dan bahkan menuju tingkat dewasa. Woooo…..repot juga yaa punya anak?! Saya jadi bersyukur sekarang saya masih lajang dan bisa belajar dulu dari mbak Ika. Jadi, kalau saya mengalami sendiri suatu saat nanti. Berharap saya ngak perlu kaget lagi dan bisa menghendle semuanya dengan baik bersama si (calon) suami. Amin :)

***

Postingan kali ini diikut sertakan dalam Our Pensieve’s 1st Giveaway yang di adakan oleh Mba Thia :)

mau JOIN juga. Yukkk Deadline sampai tanggal 22 Mei 2012 

Red thread of destiny

“An invisible red thread connects those who are destined to meet,
Regardless of time, place, or circumstance.
The thread may stretch or tangle,
but it will never break.

8a45b0b400b1e99ca3c1b657b1b3c608_tumblr_lvyv68x41o1qc6wuio1_400

*

Takdir adalah sebuah legenda yang dipercayai dalam kebudayaan Asia Timur. Hasil telusur di google via wikipedia legenda benang merah memang berasal dari China. Dalam budaya China dipercayai, bahwa ada benang merah yang mengikat jari setiap orang dengan jodohnya. Benang merah ini tak terlihat, walaupun harus melalui perjalanan hidup yang berliku-liku sepasang anak manusia yang telah ditakdirkan untuk berjodoh ini akan bertemu dan saling jatuh cinta. Dalam cerita komik Jepang benang merah takdir sering digambarkan melingkar di jari kelingking. Benang merah ini bisa kusut, dan meregang namun pada akhirnya akan berujung pada jari kelingking pasangannya.

Seandainya benang merah ini dapat dilihat oleh mata kita, saya yakin pasti kita akan banyak menjumpai orang-orang yang sibuk menggulung benang merah miliknya demi mengetahui jari milik siapakah yang terikat di ujung benang lainnya. Agar kita tidak selalu bertanya siapakah yang pada akhirnya orang yang berjodoh dengan kita.

Saya pribadi percaya bahwa setiap pilihan yang kita pilih baik di masa lalu ataupun sekarang menentukan masa depan kita. Dan setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita bukan semata-mata kebetulan (saya tidak setuju dengan adanya kebetulan). Setiap kejadian itu pasti ada maksud dan tujuannya. Dalam pemikiran  saya sama seperti menyusun puzzle, setiap kali kita menyelesaikan satu puzzle, ternyata puzzle yang kita selesaikan tersebut merupakan potongan dari puzzle yang lebih besar yang harus kita selesaikan juga. Dan begitu seterusnya. Dan kalau bicara tentang jodoh atau pasangan yang ditakdirkan untuk menjadi pasangan kita, aah .. saya hanya heran kenapa disebut benang merah kalau keyataannya benang tersebut tidak bisa dilihat secara kasat mata karena memang abstak. Bukankah lebih tepat kalau disebut benang abstrak tanpa embel-embel warna apapun :)

Saya jadi ingat pada sebuah drama jepang yang berjudul Akai Ito, bercerita tentang dua orang anak manusia yang menjalani hidup berliku-liku penuh dengan kesulitan hingga mereka memenuhi takdirnya, untuk menjadi pasangan satu sama lain. Sebuah kalimat yang sangat menyentuh menjadi pengantar drama tersebut yang menggambarkan bagaimana benang merah menjadi penghubung sepasang manusia, bahkan sebelum mereka menyadarinya :
“Tuhan telah membuat kau dan aku terpaut lewat benang merah yang panjang… dalam sebuah ikatan takdir tak terlihat dan tanpa peta… Hingga nanti aku akan jatuh cinta saat bertemu denganmu…
Selain itu, ada pula satu ungkapan menarik lain dalam satu judul drama Korea yang berjudul Creating Destiny. Drama yang bercerita tentang dua orang anak manusia yang telah dijodohkan sejak masih kecil oleh kedua orang tua mereka, namun terhalang oleh pasangan mereka masing-masing. Perjodohan bukanlah sesuatu hal yang bisa diterima dengan sukarela dan terkesan sangat kuno di jaman modern saat ini. Namun ketika salah satu dari mereka ditanya kenapa dirinya sangat bersikeras menolak perjodohan tersebut, dia menjawab : “Tentu saja karena aku mencintai pasanganku”. Dan saat gadis itu ditanya apakah dia yakin bahwa laki-laki yang menjadi pilihannya adalah “the one” yang diciptakan untuknya.

“Saya tidak tahu. Akan lebih baik jika jawabannya itu ‘tertulis dengan jelas’ di kening mereka’ “

Jadi, memang begitulah. -J-o-d-o-h-. Kita tidak akan pernah tahu siapa yang akan menjadi takdir jodoh kita sebelum diri kita sendiri berada di depan penghulu dan melihat sendiri siapa nantinya pasangan yang akan ada disamping kita. Atau Memastikan siapa yang pada akhirnya menyematkan sebuah cincin dijari manis kita di atas altar yang suci dengan janji pada dirinya sendiri untuk mencintai pasangannya hingga akhir hayat nanti.

Dan benang merah itu. Memang kadang kusut, kadang terjalin dengan benang lain, kadang meregang, tapi tidak akan pernah putus. Yang perlu dilakukan hanyalah memeriksa jari kelingking orang-orang di sekitar kita, mungkin ada ujung benang merah milik kita terikat di jari kelingking-nya. Dan mungkinkah di antara kamu, ada yang terpaut jari kelingkingnya dengan benang merah yang terpaut juga di jari kelingking saya  ? Hahaha ;)